Welcome to My Blog
animasi blog

Karya Si Burung Merak

Mengenang Si Burung Merak

W. S. Rendra yang dijuluki sebagai penyair Si Burung Merak yang begitu dikenal di kalangan negeri Indonesia. Melalui puisi Serenada Kelabu (SK), jenis puisi baru yang masuk kategori romansa. Rendra seakan menyampaikan rasa kesedihan yang mendalam dalam dirinya karena perasaan rindu. Hal ini dapat dilihat dari unsur sosial yang kemungkinan besar melatarbelakangi lahirnya puisi ini, yaitu kehidupan saat itu, kehidupan saat berpisah, yang menimbulkan kerinduan yang mendalam.
Rendra, dalam puisi tersebut begitu mengungkapkan perasaan rindunya yang tak tertahankan. Nampak jelas dalam puisi ini, berikut penggalannnya: Bagai daun yang melayang/ bagai burung dalam angin/ bagai ikan dalam pusaran/ ingin kudengar beritamu! Rendra begitu mengibaratkan dirinya seperti daun yang melayang, seakan tak berdaya menahan rasa rindu. Mengibaratkan dirinya bagai burung yang ada dalam angin, tak berdaya terkena hembusan angin kencang. Begitu pula dengan dirinya, yang tak berdaya akan perasaan rindunya terhadap seseorang. Rendra mengibaratkan dirinya seperti ikan pula, ikan yang berada di dalam pusaran air yang deras, sehingga ikan tersebut tak bisa melewati pusaran tersebut. Rendra seakan hanyut dalam perasaan rindunya.
 Rendra menyampaikan perasaan rindu yang tidak bisa ia lupakan karena ia masih teringat dengan kenangan-kenangan masa lalu. Dalam penggalan puisinya: Ketika melewati kali/ terbayang gelakmu/ ketika melewati rumputan terbayang segala kenangan. Rendra teringat kenangan yang mengesankan bagi dirinya. Ketika ia pergi berjalan ke mana pun seakan teringat dengan seseorang yang dirindukannya.
Dalam puisi ini disampaikan pula bahwa Rendra, penyair, ingin kembali bersama dengan seseorang yang dirindukannya. Digambarkan jelas dalam penggalan berikut: Pintu pun kubuka lebar-lebar/ ketika aku duduk makan/ kuingin benar bersama dirimu. Rendra terlihat menginginkan seseorang tersebut kembali kepada dirinya, ia ingin melakukan banyak hal bersama dengan seseorang yang dirindukannya.
Rendra ingin menunjukan perasaan cinta yang membuat kesedihan karena rindu. Perasaan cinta yang membuat seseorang lupa terhadap segala hal, yang mampu dilihat, dirasakan, dan diingatnya hanyalah tertuju pada seseorang.
Dalam puisi ini, Rendra menggunakan pilihan kata yang tepat sehingga menimbulkan daya/kekuatan yang diinginkannya. Seperti pada bait Ketika melewati kali terbayang gelakmu. Rendra memilih kata gelak untuk menggantikan kata tawa, dengan tujuan untuk menambah nilai estetis.
Rendra memilih beberapa majas atau gaya bahasa yang pas dalam puisi ini, antara lain majas repetisi. Dalam bait pertama: Bagai daun yang melayang/ Bagai burung dalam angin/ Bagai ikan dalam pusaran. Pengulangan kata bagai di atas merupakan bentuk majas repetisi, dengan tujuan untuk menegaskan. Rendra juga menggunakan gaya bahasa repetisi pada bait kedua: Ketika melewati kali/ terbayang gelakmu/ Ketika melewati rumputan/ terbayang segala kenangan.
Majas ke dua yang dipilih Rendra adalah majas perumpamaan, yaitu majas yang membandingkan beberapa hal, biasanya ditandai dengan penggunaan kata bagai, seperti, umpama, layaknya, dan lain sebagainya. Pada puisi ini majas simile terlihat pada bait pertama. Bagai daun yang melayang/ Bagai burung dalam angin/ Bagai ikan dalam pusaran.
         Tema cinta juga diusung oleh Rendra dalam puisinya yang berjudul Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api. Rasa cinta dalam puisi ini adalah rasa cinta terhadap tanah air. Ini merupakan puisi untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api, Kota Bandung yang justru dibumihanguskan agar sekutu tidak dapat masuk kembali.
         Dalam puisi ini, Rendra memberi makna hidup sebagai manusia merdeka yang bernegara dan bermartabat, dengan nyawa sekali pun. Rendra menceritakan melalui puisinya mengenai kemenenagan merebut Bandung dengan cara "menghancurkannya". Hal itu ditunjukkan dengan kuat dalam baitnya: Kami tidak ikhlas/  menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris/ dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu/ sehingga menjadi lautan api.
Selanjutnya, Rendra menunjukkan sisi kemerdekaan. Ia mengungkapkan ideologi eksistensial martabat manusia. Katanya dalam bait: Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata/ yang bisa dialami dengan nyata/ mana mungkin itu bisa terjadi/ di dalam penindasan dan penjajahan? Bagian ideologi ini termuat dalam Pancasila, sila kedua. Kemerdekaan itu diungkap sebagai alasan mempertahankannya, Itulah sebabnya kami melawan penindasan/ Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan bangsa tetap terjaga.
Dalam bait berikut, Rendra ingin menunjukkan bahwa makna hidup itulah yang diawali dengan perjuangan, maka dari itu hidup harus diterima, disyukuri, dan dipertahankan. Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah/ Hidup yang diperkembangkan/ dan hidup yang dipertahankan.
       Rendra menyampaikan pesan-pesannya dalam pertanyaan-pertanyaan setelah kemerdekaan direbut. Rendra menyajikan sinisme-sinisme yang dimunculkan dalam pertanyaan itu, ditautkan pada situasi perjuangan ketika "merelakan Bandung dihancurkan demi kemerdekaan". Karena itu, sinisme itu serentak diakhiri dengan serbuan pertanyaan sebagai pesan untuk berintrosepeksi diri pada (warga) Kota Bandung, yang pernah menjadi Lautan Api. Inilah sajak lengkap Si Burung Merak, yang ditulis tahun 1990.

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api, Oleh W.S. Rendra

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan zaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.


        Pada Intinya Rendra ingin menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa sebagai rakyat Indonesia haruslah mau menerima hidup, dapat bergotong royong, mempunyai sikap rela berkorban, saling menghargai, dan mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi. Apabila negara kita akan dijajah atau direbut hendaknya kita harus merebutnya kembali, “relakan hal kecil walaupun hal itu penting untuk merebut hal besar yang harus dilindungi”. Sikap merelakan hal kecil di sini adalah merelakan Kota Bandung dibumihanguskan agar sekutu tidak dapat masuk kembali demi merebut wilayah Indonesia kembali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulasan Cerpen Gadis Beralis Tebal Bermata Cemerlang Karya A. Mustofa Bisri

 Ilustrasi oleh Wayan Kun Adnyana/Kompas Cerpen berjudul “Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang" karya A. Mustofa Bisri ...